Rumasa Mingguan Majelis Bumi Sholawat Hadrotul Musthofa Integrasikan Peringatan Isra Mi’raj dan Harlah NU ke-100

admin@jabar
By admin@jabar

KBB. BERITAJABAR.COM – Majelis Bumi Sholawat Hadrotul Musthofa telah menyelenggarakan rumasa mingguan yang secara sinergis dirangkaikan dengan peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 H/2026 M dan perayaan Hari Lahir Nahdlatul Ulama (NU) yang memasuki abad ke-100. Kegiatan berlangsung pada Senin malam (9/2/2026), setelah pelaksanaan salat Maghrib, berlokasi di Blok Pasar RT 03/10, Desa Batujajar Barat, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat.

Pengasuh majelis, Ustadz Muslim Ginan Alghifariy, mengemukakan pandangan substantif bahwa peringatan Isra Mi’raj tidak boleh terjebak dalam tataran seremonial semata. Menurutnya, peristiwa mulia tersebut hendaknya dijadikan momentum ontologis untuk memperkuat kualitas ibadah salat sebagai fondasi ontogenetik pembentukan karakter umat, yang pada gilirannya berdampak pada konstitusi kesadaran etis dan keteguhan moral kolektif.

Dalam konteks Harlah NU ke-100, ia menjelaskan bahwa momen bersejarah ini menjadi titik refleksi atas perjalanan panjang tradisi keilmuan ulama dalam menjaga kontinuitas tradisi keagamaan, sanad keilmuan yang teruji, serta prinsip moderasi beragama sebagai paradigma keberagamaan yang kontekstual. Selama satu abad perjalanan, NU telah membuktikan diri sebagai pilar penyeimbang dalam dinamika kebangsaan dan keumatan, dengan landasan filosofis yang mengakar pada konsep Islam rahmatan lil ‘alamin.

“Kami mengharapkan rumasa mingguan ini dapat berfungsi sebagai ruang pembinaan dimensi ruhani dan intelektual, sekaligus menjadi media untuk mempererat ikatan ukhuwah Islamiyah yang substantif di tengah masyarakat,” ujar Ustadz Muslim. Ia juga menyampaikan visi majelis untuk melahirkan generasi yang berilmu luas secara multidisiplin, berakhlak mulia sesuai dengan tuntunan agama, serta berdedikasi penuh bagi kemajuan agama dan bangsa.

Kegiatan diawali dengan sesi dzikir dan istighosah yang dipimpin langsung oleh Ustadz Muslim. Lantunan doa khidmat yang penuh makna dan keikutsertaan jamaah yang khusyuk telah menciptakan atmosfer spiritual yang mendalam dan reflektif bagi seluruh peserta yang hadir, sehingga memberikan ruang untuk kontemplasi diri dan kedekatan dengan Sang Pencipta.

Momentum ini selaras pula dengan kedatangan bulan Sya’ban, khususnya Nisfu Sya’ban yang diakui sebagai fase spiritual keberkahan dalam tradisi keagamaan Islam. Majelis berkomitmen untuk menghadirkan ruang ibadah kolektif yang tidak hanya fokus pada ritualitas, tetapi juga mendorong pemanfaatan bulan suci tersebut untuk memperbanyak ibadah shalawat, melakukan muhasabah diri secara mendalam, serta memperkokoh solidaritas sosial antarumat beragama.

Sebagai narasumber utama, KH. Rd. Muhamad Hariri, AA., M.A., dalam tausiyahnya yang sarat akan kontemplasi intelektual menyampaikan bahwa shalawat bukan sekadar rangkaian lafaz yang diulang secara ritualistik, melainkan manifestasi konkret dari cinta dan pengakuan spiritual atas kemuliaan Rasulullah SAW. Menurut beliau, ketika Allah dan para malaikat bershalawat kepada Nabi, hal itu menunjukkan bahwa shalawat adalah amalan kosmik—suatu bentuk ibadah yang melibatkan dimensi metafisika langit dan realitas konkrit bumi secara simultan.

Beliau menegaskan bahwa tradisi shalawat yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat, khususnya di lingkungan Majelis Bumi Sholawat Hadratul Musthafa, merupakan kelanjutan dari mata rantai dakwah para ulama dan wali di Nusantara yang telah berperan sebagai agen transformasi budaya. Mereka berhasil secara cerdas mentransformasikan nilai teologis menjadi budaya spiritual yang hidup, sehingga shalawat tidak hanya berfungsi sebagai bacaan ritual, tetapi juga berkembang menjadi peradaban—yang mampu membentuk akhlak individu, memperhalus dimensi jiwa, dan memperkuat ikatan ukhuwah Islamiyah yang inklusif.

Lebih lanjut, beliau mengajak jamaah untuk menjadikan shalawat sebagai kebutuhan ruhani yang mendasar, bukan sekadar kebiasaan lisan yang tanpa makna. Sebab, shalawat yang dibaca dengan kesadaran iman yang mendalam akan menghadirkan ketenangan batin yang substansial, membuka pintu keberkahan yang luas, serta menjadi wasilah yang efektif terkabulnya doa. Dengan demikian, shalawat dapat benar-benar berfungsi sebagai jembatan transendental yang menghubungkan hamba dengan Rasulullah SAW, sekaligus sebagai media yang mengantarkan umat menuju pencapaian ridha Allah SWT. (IDING/BNN)

Share This Article
Leave a Comment