KBB. BERITA JABAR COM .
Jembatan Sapan BBS (Babakan Sapan) yang terletak di wilayah Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, berdiri sebagai salah satu infrastruktur penting yang melintasi Sungai Citarum. Sebagai tulang punggung konektivitas antarwilayah, jembatan ini tidak hanya berperan sebagai akses utama bagi aktivitas sehari-hari masyarakat sekitar, tetapi kini juga berkembang menjadi destinasi wisata baru yang semakin ramai dikunjungi – aliran pengunjung terus mengalir setiap hari, terutama saat akhir pekan.

Pemandangan sungai yang membentang luas serta suasana terbuka di sekitar jembatan menjadi daya tarik utama yang menarik hati banyak orang. Tempat ini kini mengalir menjadi favorit kalangan muda untuk bersantai, nongkrong, dan berfoto, terutama pada saat sore hingga malam hari ketika suasana menjadi lebih sejuk dan suasana semakin ramai.
Kehadiran para pedagang yang bermunculan di kawasan sekitar jembatan juga memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian lokal. Mereka tidak hanya menghidupkan suasana kawasan, tetapi juga menghasilkan aliran pendapatan yang mengalir bagi warga setempat yang sebelumnya terbatas pada pekerjaan konvensional.

Namun, potensi yang ada justru tergerus oleh kondisi yang kurang mendukung. Kurangnya fasilitas dasar menjadi akar masalah utama, tidak adanya tempat sampah yang memadai di sekitar kawasan membuat pengunjung tidak punya pilihan lain selain membuang sampah kemana saja, baik ke tepian maupun langsung ke dalam sungai. Selain itu, tidak adanya WC umum juga menjadi kendaraan besar, membuat banyak pengunjung merasa tidak nyaman dan bahkan terpaksa menggunakan area sekitar sungai sebagai tempat buang air. Dika (19), warga Cihampelas, mengungkapkan kekesalan terhadap kondisi tersebut. “Sungainya sampah penuh karena tidak ada tempat untuk membuangnya, bau juga tidak sedap akibat sampah dan kurangnya fasilitas sanitasi. Padahal kalau fasilitasnya lengkap dan terkelola dengan baik, tempat ini bisa jadi wisata yang benar-benar menarik,” ungkap Santu (9/2/25). Ia menekankan bahwa penyediaan fasilitas dasar harus menjadi prioritas agar kawasan tersebut layak menjadi destinasi wisata yang dapat dibanggakan.
Di sisi lain, ancaman juga mengalir dari aspek keselamatan lalu lintas yang terabaikan. Novel (18), siswa SMA Negeri 1 Batujajar asal Batujajar, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kondisi jalan di sekitar jembatan. “Dalam radius sekitar 100 meter tidak ada satupun rambu lalu lintas. Pasca jembatan jalan langsung menanjak dan berkelok, sangat berbahaya terutama saat jam sibuk sekolah,” jelasnya. Pada jam masuk dan pulang sekolah, arus kendaraan yang mengalir deras meningkat drastis sementara banyak pelajar yang harus melintas di area tersebut.
Masyarakat mengimbau pemerintah daerah dan pihak terkait untuk segera mengambil langkah konkret. Tuntutan utama meliputi penyediaan tempat sampah yang cukup serta WC umum yang bersih dan terawat, penanganan sampah sungai secara terencana dan berkelanjutan, serta penyediaan rambu-rambu lalu lintas dan fasilitas keselamatan yang memadai. Dengan penataan yang baik dan pengawasan yang ketat, Jembatan Sapan BBS diharapkan dapat bertransformasi menjadi kawasan yang bersih, aman, dan nyaman – di mana manfaat bagi masyarakat dan potensi wisata dapat mengalir dengan lancar bagi seluruh pengguna jalan dan pengunjung. ( Iding/BNN )

