Tanpa MCK, Tanpa Keluarga, Tanpa Bantuan: Kisah Lansia Sukamenak yang Seolah Dilupakan Negara

Penulis Berita
By Penulis Berita 5

KAB. BANDUNG, BERITA JABAR COM. — Di usia 61 tahun, ketika seharusnya hidup dijalani dengan tenang, Oseng justru terjebak dalam kesendirian yang menikam hati. Tinggal seorang diri di Kampung Sekeawi RT 02/09, Desa Sukamenak, Kecamatan Margahayu, ia menempati rumah yang lebih mirip “makam hidup yang masih bernapas” daripada tempat tinggal. Dindingnya miring seolah hendak rubuh, atapnya berlubang hingga hujan bebas menggenangi lantai, sementara permukaan lantainya yang bergelombang membuat langkahnya selalu gemetar takut terjatuh. Tanpa MCK sama sekali, kebutuhan dasar seperti mandi dan buang air pun harus ia lakukan dengan cara seadanya — sebuah kenyataan yang mengiris kemanusiaan.

Tak ada keluarga yang menopang, tak ada pemasukan sepeser pun setiap bulan. Yang tersisa hanya kesunyian yang berisik dan perut yang sering kosong sampai terasa terbakar. Namun yang paling menyakitkan bagi Oseng bukan hanya derita fisik, melainkan rasa “ditolak sampai ke tulang rusuk”. Negara seolah benar-benar lupa bahwa ia ada. Selama hidup miskinnya itu, ia belum pernah menerima bantuan pemerintah apa pun: tidak ada beras, tidak ada bantuan uang tunai, tidak ada pakaian, dan tidak ada program perawatan lansia yang menjadi hak warga negara sepertinya.

“Kalau lagi lapar banget, saya cuma minum air hangat sampai perut terasa penuh — seolah air bisa ganti nasi,” ucap Oseng lirih. Satu-satunya yang kadang menolongnya hanyalah adiknya, Imas (52). Namun Imas pun hidup miskin dan ironisnya juga tidak terdaftar sebagai penerima bantuan pemerintah. Dua saudara yang sama-sama terjepit kemiskinan, tanpa dukungan negara yang seharusnya hadir.

Belakangan diketahui penyebab utama mengapa Oseng tak pernah tersentuh bantuan: namanya tidak tercatat dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), pintu utama untuk mendapatkan program seperti PKH, BPNT, maupun PBI. Tanpa data, semua pintu bantuan terkunci rapat. Akibatnya, Oseng jatuh semakin dalam ke jurang kemiskinan, menjalani hari demi hari hanya sekadar bertahan hidup tanpa kepastian besok.

Warga sekitar bukan hanya prihatin — mereka marah. Mereka mendesak pemerintah desa melakukan pendataan ulang segera sebelum terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Warga juga meminta Dinas Sosial Kabupaten Bandung turun tangan cepat, tidak menunggu besok: memberikan bantuan makanan, obat, serta memperbaiki rumahnya melalui program Rutilahu. Rumah yang rapuh itu bukan sekadar tempat tinggal, tapi ancaman keselamatan yang bisa merenggut nyawanya kapan saja, terutama saat angin kencang atau hujan deras.

Di usia senja yang seharusnya diisi ketenangan, Oseng hanya ditemani ketakutan dan sunyi. Negara yang seharusnya menjadi pelindung terakhir warganya justru luput melihat keberadaannya. Masyarakat kini menunggu langkah nyata pemerintah — sebelum kisah pilu ini berakhir diam-diam, dan seorang warga negara hilang tanpa riak, seolah ia tidak pernah ada. (Id/BNN)

Share This Article
Leave a Comment