Tabligh Akbar di Masjid Al-Falah: Kajian Hadis Mengenai Dimensi Fundamental Niat dalam Amal

admin@jabar
By admin@jabar

KBB. BERITA JABAR COM .
Masjid Al-Falah, di Jalan Sinarjaya, Batujajar Barat, Kabupaten Bandung Barat, kembali menjadi ruang konsolidasi spiritual masyarakat pada Ahad pagi (7/2/2026). Sejak sebelum pukul 06.00 WIB, ratusan jamaah telah memadati area masjid untuk mengikuti Tabligh Akbar rutin bulanan. Kehadiran mereka merefleksikan kesadaran kolektif bahwa majelis ilmu bukan sekadar tradisi keagamaan, melainkan kebutuhan epistemik dan ruhani yang terus menuntut pendidikan.

Kegiatan diawali dengan lantunan sholawat dan dzikir yang dipimpin Ustadz Muslim Ginan Alghifariy, menciptakan suasana kontemplatif yang menyiapkan kesiapan batin jamaah. Momentum ini kemudian menemukan titik gravitasinya saat Ustadz Hasanudin Bunyamin—yang akrab disapa Ceng Hasan—menyampaikan kajian hadis dengan fokus pada dimensi niat fundamental dalam struktur amal.

Merujuk pada Kitab Arbain An-Nawawi, Ceng Hasan mengurai hadis pertama yang menjadi poros etika Islam: “Innamal a’malu bin niyyat.” Ia menegaskan bahwa hadis ini bukan sekedar prinsip moral, melainkan paradigma evaluatif dalam menilai seluruh tindakan manusia. Amal, dalam perspektif ini, tidak berdiri pada bentuk lahiriah semata, tetapi memperoleh legitimasi keuntungan dari orientasi batin yang melatarinya. Dengan demikian, kualitas spiritual seseorang ditentukan oleh integritas niatnya, bukan oleh kesan sosial atas tindakannya.

Lebih jauh, ia menjelaskan dimensi teologis hadis tersebut: niat baik yang belum terealisasi tetap bernilai pahala, sementara niat buruk yang dibatalkan karena kesadaran ilahiah justru dicatat sebagai kebaikan sempurna. Penjelasan ini meneguhkan bahwa Islam menempatkan hati sebagai pusat moralitas. Ruang batin menjadi arena yang paling menentukan dalam dialektika antara keikhlasan dan riya, antara orientasi ilahiah dan kepentingan duniawi.

Setelah pembahasan hadis selesai, acara dilanjutkan dengan penceramahan inti oleh KH. RD. Muhamad Hariri AA. MA, yang membahas Kitab Hikam Ibnu Athaillah. Dalam paparannya, beliau menguraikan ajaran tentang hubungan erat antara kemurnian hati dengan kesadaran akan kebesaran Allah SWT. Beliau menjelaskan bahwa Kitab Hikam tidak hanya berisi ajaran tentang tasawuf secara teoritis, melainkan panduan praktis untuk membersihkan jiwa dari godaan hawa nafsu dan menumbuhkan kedekatan dengan Sang Pencipta.

Kajian ini memberikan penekanan kuat bahwa reformasi diri harus dimulai dari rekonstruksi niat. Dalam konteks kehidupan modern yang sarat pencitraan, pesan tentang kemurnian orientasi menjadi semakin relevan. Tabligh Akbar pagi itu tidak hanya menghadirkan transfer ilmu, tetapi juga membangkitkan kesadaran kritis bahwa seluruh aktivitas—ibadah maupun sosial—hanya bernilai autentik ketika dikeluarkan pada niat yang lurus dan ikhlas karena Allah. ( Iding/BNN )

Share This Article
Leave a Comment