KOTA BANDUNG, Berita Jabar Com.
Organisasi Profesi Jurnalis Independen Bersatu menggelar kunjungan edukatif ke Pusat Budaya Sunda Universitas Padjadjaran (Unpad) untuk mempelajari bagaimana Majalah Sunda Mangle menjaga eksistensi sebagai media berbahasa daerah sekaligus agen pelestar budaya Sunda, dalam rangka menyambut Hari Pers Nasional 2026.
Kunjungan yang dilakukan pada hari ini (3/3/2026) dihadiri oleh tiga perwakilan organisasi, yaitu Dwi Arifin (Kepala Bidang Pengembangan Jejaring Media), Yadi Karyadipura (Konsultan Kebahasaan Daerah), dan Subina Fikri (Konsultan Bahasa Global). Mereka diterima oleh tim redaksi Majalah Mangle yang dipimpin oleh Dr. Dian Hendrayana, S.S., M.Pd., yang juga menjabat sebagai dosen bahasa dan sastra Sunda di kampus tersebut.
Pada pertemuan tersebut, Dr. Dian Hendrayana yang memiliki pengalaman luas di industri media massa – mulai dari platform elektronik hingga cetak – memaparkan bagaimana Majalah Mangle mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa mengurangi kedalaman nilai budaya yang terkandung dalam setiap edisinya. Beliau menjelaskan bahwa pendekatan yang diterapkan adalah mengintegrasikan metode jurnalistik modern dengan pengetahuan tradisional yang dihimpun dari berbagai komunitas Sunda di seluruh Jawa Barat.
Menurut beliau, terdapat beberapa prinsip dasar yang menjadi landasan Majalah Mangle dalam menghasilkan konten berkualitas: melakukan pendataan mendalam terhadap sumber informasi dari berbagai lapisan masyarakat, melakukan verifikasi menyeluruh dengan merujuk pada arsip budaya yang terkelola secara sistematis, memanfaatkan teknologi untuk memperluas jangkauan pembaca tanpa mengorbankan keaslian bahasa, serta membangun sinergi erat antara tim redaksi dengan kontributor dari berbagai daerah untuk mendapatkan perspektif yang beragam. Selain itu, otonomi dalam pengelolaan konten menjadi faktor penting untuk memastikan kredibilitas dan relevansi pemberitaan.
“Media berbahasa daerah tidak hanya bertugas menyampaikan informasi, tetapi juga harus mampu menjadi jembatan antara generasi muda dengan akar budaya mereka. Indikator keberhasilannya bisa dilihat dari seberapa banyak konten kita yang mampu menginspirasi publik untuk lebih menghargai kekayaan bahasa dan budaya lokal,” terangnya saat berbagi pengalaman dengan perwakilan media berbahasa daerah yang ikut dalam kegiatan ini.
Dalam kesempatan yang sama, terlihat momen pertukaran majalah sebagai simbol kerja sama, di mana perwakilan Jurnalis Independen Bersatu memaparkan publikasi mereka dan menerima materi referensi dari Majalah Mangle. Dwi Arifin menyampaikan bahwa kunjungan ini adalah bagian dari serangkaian studi yang juga akan dilakukan ke media berbasis nilai keagamaan dan media berbahasa Jawa. “Kami ingin mengumpulkan berbagai model terbaik pengelolaan media daerah yang bisa dijadikan acuan untuk memperkuat peran media sebagai katalisator pembangunan berbasis budaya,” jelasnya dalam penutupan kegiatan. (Iding)

