JAKARTA, BERITA JABAR COM. – Menjelang puncakperingatan Hari Pers Nasional 2026 yang diperingati setiap bulan Februari, Jurnalis Independen Bersatu menyelenggarakan program studi banding secara daring kepada Lajnah Talif wan Nasyr Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LTN PBNU), penerbit Majalah Risalah NU. Kegiatan ini dijalankan melalui komunikasi jarak jauh berbasis digital, sebagai bagian dari rangkaian pengembangan kapasitas bagi praktisi media massa.
Pada kesempatan tersebut, Kepala Pusat Pengembangan Relasi Media Massa organisasi profesi Jurnalis Independen Bersatu, Dwi Arifin, diterima secara resmi oleh Khoirul Huda Sabily, Wakil Pimpinan Redaksi sekaligus Redaktur Pelaksana Majalah Risalah NU, serta Sabban Sirait, yang mengelola bidang Kerjasama dan Promosi pada penerbitan majalah tersebut. Pertemuan ini difokuskan pada pertukaran pemahaman terkait dinamika penerbitan media cetak berbasis keilmuan dalam konteks masyarakat Indonesia.
Pihak Redaksi Majalah Risalah NU menjelaskan bahwa media cetak ini hadir sebagai sumber referensi utama bagi umat Islam di tanah air. Untuk menjamin kualitas setiap edisi yang diterbitkan oleh PBNU, terdapat sejumlah tahapan kerja yang harus dilaksanakan secara terstruktur dan komprehensif. Proses tersebut dirancang untuk memastikan konten yang disajikan memiliki dasar keilmuan yang kokoh dan relevan dengan kebutuhan pembaca.
“Alhamdulillah, sampai hari ini Majalah Risalah NU yang resmi diterbitkan oleh LTN PBNU terus eksis dan terbit secara berkala setiap bulan; kini memasuki edisi ke-174 pada Maret 2026, sejak awal berdirinya pada tahun 2017 lalu,” jelas salah satu perwakilan redaksi kepada delegasi jurnalis media cetak dan online pada tanggal 27 Februari 2026. Dalam setiap tahapan produksi, majalah tersebut selalu mengedepankan kajian mendalam bersama para sesepuh dan tokoh NU, serta perencanaan yang matang, sehingga menghasilkan konten yang berkualitas baik dari segi keilmuan maupun manfaat bagi masyarakat luas.
Tantangan utama yang dihadapi saat ini adalah keterbatasan akses dan distribusi di berbagai pelosok perdesaan, khususnya di wilayah pinggiran Pulau Jawa, di mana masih banyak kelompok warga Nahdlatul Ulama yang belum mengenal atau memperoleh akses terhadap Majalah Risalah NU. Berdasarkan data yang ada, cakupan distribusi saat ini belum mencapai tingkat optimal untuk menjangkau seluruh komunitas target.
“Memang kami akui bahwa pendistribusian Majalah Risalah NU kepada masyarakat, terutama warga NU di pelosok negeri, belum maksimal dan belum tercatat dengan sistem yang terstruktur,” ucap perwakilan redaksi. Namun, ke depan pihaknya akan terus berupaya semaksimal mungkin untuk melakukan pendataan dan penyebaran majalah secara luas, melalui koordinasi erat dengan pengurus NU tingkat lokal serta pembukaan jaringan agen penjualan yang lebih banyak, sehingga masyarakat dapat memperoleh akses terhadap majalah dengan lebih mudah. “Insyaallah,” pungkasnya. (Iding)

