BANDUNG BARAT, Berita Jabar Com.
Suasana Ta’lim Subuh di Masjid Jami’ Al Falah, Kampung Sinarjaya, Desa Batujajar Barat, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (21/2/2026), berlangsung dengan khidmat. Dalam sesi edukatif tersebut, Ustadz Hasanudin mengemukakan konsep “Kurikulum Ramadhan” sebagai kerangka kerja terintegrasi yang bertujuan untuk mengoptimalkan potensi spiritual dan praktik ibadah umat Islam selama bulan suci.
Ia menyampaikan bahwa Ramadhan merupakan periode kemuliaan yang dianugerahi keistimewaan ampunan dan multiplikasi pahala, sekaligus menjadi momentum strategis untuk memperdalam hubungan dengan Allah SWT melalui doa dan ibadah. Secara esensial, puasa memiliki dimensi yang lebih luas dari sekadar pengendalian hawa nafsu fisik, melainkan berfungsi sebagai instrumen pembentukan karakter dan peningkatan derajat ketakwaan, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183–187.
Menurut paparannya, kedatangan ayat-ayat mengenai puasa pada bulan Sya’ban tahun kedua Hijriah memiliki implikasi hermeneutis yang mendalam: memberikan ruang waktu bagi Rasulullah SAW untuk menyusun kerangka persiapan umat dalam menghadapi Ramadhan dengan pemahaman yang komprehensif. “Secara konseptual, hal ini menunjukkan bahwa pelaksanaan Ramadhan harus didasarkan pada rancangan yang jelas dan terarah, bukan sekadar rutinitas tahunan yang tidak diiringi oleh substansi pemahaman,” tegasnya di depan jamaah.
Poin pertama dalam kerangka “Kurikulum Ramadhan” adalah peningkatan mutu dan intensitas ibadah shalat. Secara khusus, ia menekankan pentingnya memelihara konsistensi shalat sunnah rawatib sebagai komponen penyempurna bagi ibadah shalat fardhu, sebagaimana diatur dalam hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim.
Poin kedua berfokus pada peningkatan interaksi dengan Al-Qur’an melalui penetapan target khatam yang realistis serta partisipasi aktif dalam majelis tilawah, sementara poin ketiga mengedepankan perluasan kontribusi sosial melalui aktivitas sedekah yang terencana dengan menyisihkan sebagian harta secara teratur setiap hari selama Ramadhan. Kedua elemen ini dirancang untuk memperkuat dimensi spiritual dan solidaritas sosial di kalangan umat.
Menutup paparannya, Ustadz Hasanudin mengajak jamaah untuk menjalani Ramadhan dengan kesungguhan yang mendalam dan perencanaan yang sistematis. Ia berharap bahwa melalui implementasi kurikulum yang terstruktur, umat Islam tidak hanya dapat menjalankan kewajiban puasa secara optimal dari aspek fisik, tetapi juga berhasil meraih derajat takwa yang hakiki serta meraih ampunan Allah SWT. (Iding)

