Dua Wisudawan Inspiratif Unisba 2025, Bukti Kemandirian dan Toleransi Berjalan Seiring

admin@jabar
By admin@jabar
Kisah inspiratif mewarnai momen wisuda Gelombang I T.A. 2025/2026 di Universitas Islam Bandung. Dua lulusan dari latar belakang berbeda, Alya Detya Setiani dan Parvesh Santosh Daswani, menunjukkan bahwa ketekunan, kemandirian, dan sikap terbuka mampu mengantarkan mahasiswa meraih prestasi akademik sekaligus pengalaman hidup berharga.(foto: komhumas unisba)

BERITA-JABAR.COM – Suasana haru dan bangga menyelimuti Wisuda Gelombang I Tahun Akademik 2025/2026 di Universitas Islam Bandung. Di antara ratusan lulusan, dua nama mencuri perhatian karena kisah perjuangan dan nilai kehidupan yang mereka bawa: Alya Detya Setiani dan Parvesh Santosh Daswani.

Keduanya berasal dari latar belakang berbeda, namun memiliki satu kesamaan: semangat pantang menyerah dan sikap terbuka terhadap keberagaman.

Alya Detya Setiani: Lulus Cumlaude Sambil Bangun Usaha Kuliner

Alya Detya Setiani, lulusan Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, menorehkan prestasi gemilang dengan IPK 3,93 dan predikat Pujian. Lahir di Bandung pada 15 Januari 2002, Alya dikenal sebagai mahasiswa yang mampu menyeimbangkan akademik dan wirausaha.

Sejak awal perkuliahan, ia telah merintis bisnis kuliner rumahan. Produk yang ditawarkan beragam, mulai dari seblak, cireng isi, sempol, mochi, hingga aneka minuman. Tidak hanya melayani pembeli secara langsung, Alya juga menyuplai produk milidi ke beberapa warung serta membuka sistem pre-order untuk memperluas jangkauan pemasaran.

Kesibukannya tak berhenti di sana. Setiap sore selepas Magrib, ia mengabdikan diri sebagai pengajar di DTA Al-Muqoromah. Bagi Alya, kunci menjalani berbagai peran tersebut adalah manajemen waktu yang disiplin.

“Kuliah tetap prioritas utama. Dengan menentukan skala prioritas, saya bisa membagi waktu antara tugas, mengajar, dan berjualan,” ujarnya.

Kerja kerasnya berbuah manis. Ia berhasil meraih Beasiswa Jabar Future Leaders Scholarship (JFLS) serta Beasiswa Baitul Maal Unisba.

Sebelum menjadi mahasiswa, Alya lebih dulu menempuh pendidikan di Ma’had Quran Rabbani dan menuntaskan hafalan 30 juz Al-Qur’an. Baginya, program beasiswa bukan sekadar bantuan dana, melainkan wadah pengembangan diri.

“Beasiswa membantu meringankan beban orang tua sekaligus membentuk soft skill, hard skill, dan menjaga hafalan melalui murojaah,” tuturnya.

Ia berharap ilmu yang diperoleh dapat memberi manfaat luas, sekaligus mengembangkan usaha yang telah dirintisnya sejak mahasiswa.

Sementara itu, Parvesh Santosh Daswani, lulusan Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, juga menghadirkan kisah tak kalah inspiratif. Lahir di Jakarta, 2 November 2002, ia menyelesaikan studi dengan IPK 3,63 dan predikat Sangat Memuaskan.

Sebagai mahasiswa beragama Kristen Protestan dari keluarga multikultural—ayah keturunan India dan ibu asal Surabaya—Parvesh sempat menyimpan keraguan saat memilih kampus berbasis Islam. Namun pengalaman selama kuliah justru membuka pandangannya tentang arti inklusivitas.

“Saya merasa sangat diterima. Tidak ada diskriminasi dari dosen maupun teman-teman. Ini pengalaman berharga tentang keberagaman,” ungkapnya.

Selama menempuh pendidikan, Parvesh juga aktif membantu usaha keluarga berjualan kain di Pasar Baru. Tak hanya itu, ia memperoleh kesempatan mengikuti program pertukaran mahasiswa selama satu semester di Kuala Lumpur melalui Universiti Kuala Lumpur (UniKL).

Menurutnya, perbedaan latar belakang bukanlah hambatan untuk meraih prestasi.

“Yang paling penting adalah kualitas pendidikan dan kemauan untuk belajar. Di sini saya belajar toleransi secara nyata,” katanya.

Kisah Alya dan Parvesh menjadi representasi mahasiswa Unisba yang tak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat secara karakter. Kemandirian, kerja keras, serta penghargaan terhadap perbedaan menjadi nilai penting yang mereka bawa hingga hari kelulusan.

Wisuda kali ini bukan sekadar seremoni akademik, melainkan simbol perjalanan panjang yang ditempa disiplin, dedikasi, dan sikap saling menghormati—nilai-nilai yang akan terus mereka bawa dalam kehidupan selanjutnya.(gifa/png)***

Share This Article
Leave a Comment