Bandung Barat, Berita Jabar Com . — Kuliah subuh yang diselenggarakan pada hari Jumat (27/2/2026), bertepatan dengan hari ke-9 Ramadhan 1447 Hijriah, kembali menghadirkan kajian penuh makna di Masjid Al-Falah, Jalan Sinarjaya, Desa Batujajar Barat, Kabupaten Bandung Barat. Kegiatan rutin yang telah menjadi bagian dari kehidupan spiritual masyarakat sekitar tersebut menghadirkan Ustadz Hasanudin, yang akrab disapa Ceng Hasan, sebagai pemateri dengan tema pembahasan lima hal yang dapat menghapus pahala ibadah puasa.
Dalam menyampaikan materinya, Ceng Hasan menegaskan bahwa puasa tidak sekadar menahan lapar dan dahaga secara fisik. Lebih dari itu, puasa merupakan ibadah yang menuntut pengendalian diri secara menyeluruh, baik dari sisi lahir maupun batin. “Puasa adalah ibadah yang menyatukan dimensi fisik dan spiritual. Oleh karena itu, tidak cukup hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga harus menjaga perilaku serta ucapan dari segala bentuk kesalahan,” ungkapnya di hadapan jamaah yang hadir.
Hal pertama yang disampaikan adalah ghibah, yaitu membicarakan keburukan orang lain meskipun informasi yang disampaikan benar adanya. Menurut Ceng Hasan, ghibah kerap dianggap sebagai hal yang sepele oleh sebagian orang, padahal dampaknya sangat signifikan karena dapat mengikis bahkan menghapus seluruh pahala puasa yang telah dikumpulkan sejak terbitnya fajar.
Kedua adalah namimah atau adu domba, yaitu tindakan menyampaikan perkataan seseorang kepada pihak lain dengan tujuan eksplisit merusak hubungan antar individu. Perilaku ini katanya berpotensi memecah belah persaudaraan dan menimbulkan permusuhan di tengah masyarakat. Padahal, bulan Ramadhan seharusnya menjadi momentum untuk mempererat ukhuwah dan memperkuat persatuan umat.
Ketiga adalah dusta atau ringkasan, keempat adalah memandang dengan syahwat yang tidak terjaga, dan kelima adalah sumpah palsu atau yamin kadzibah. Dalam penjelasannya, Ceng Hasan mengutip hadis sahih riwayat Imam Bukhari yang menyatakan bahwa Allah Subhanahu Wata’ala tidak membutuhkan waktu luang seseorang yang tidak mampu meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta. Ia juga menekankan pentingnya menjaga tampilan karena tampilan yang tidak terkendali dapat mengotori hati dan meningkatkan kualitas ibadah. Sementara sumpah palsu termasuk dosa besar karena mempergunakan nama Allah untuk kepentingan duniawi, yang pada akhirnya merusak keberkahan puasa itu sendiri.
Melalui kuliah subuh ini, diharapkan jamaah tidak hanya menjalankan puasa secara formal semata, tetapi juga dapat meningkatkan kualitas spiritual serta akhlak selama bulan Ramadhan, sehingga ibadah yang dilakukan benar-benar bernilai dan diterima di sisi Allah Subhanahu Wata’ala. (Iding)

